Iklan Sponsor

Iklan

Iklan Sponsor

Iklan

terkini

Beberapa Kesaksian Pembantaian Etnis Cina 9 Oktober 1740 di Batavia

arung sejarah
, 08:00 WIB Last Updated 2023-06-15T13:37:26Z

ARUNGSEJARAH.COM - Beberapa Kesaksian Pembantaian Etnis Cina 9 Oktober 1740 di Batavia.

 
SELURUH jalanan, gang-gang, dan kanal dipenuhi dengan mayat. Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal, jika melewati tumpukan mayat-mayat itu.”

Demikian deskripsi dari kesaksian Schwarzen tentang kondisi pembataian orang Cina yang terjadi ketika itu di Batavia.

G. Bernhard Schwarzen, yang juga merupakan salah seorang pelaku pembantaian dan perampokan ini, mengisahkan dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751.

Bahkan Ironisnya, Schwarzen juga membunuh orang Cina yang ia kenal baik dan kerap mengundangnya makan malam.

Kopral Johann Heinrich Schröder yang bertugas di Benteng Tangerang sekitar akhir 1739 atau awal 1740 juga mengungkapkan kesaksiannya.

Menurut Schröder, serangan di Batavia terjadi pada hari Minggu, 9 Oktober 1740.

Keesokan paginya, Senin tanggal 10 Oktober 1740, tampak semua rumah orang Cina di dalam tembok kota Batavia hangus terbakar.

Mayat-mayat orang Cina berhamburan di jalanan, parit dan kanal. Mereka tewas dengan segala macam cara, bahkan ada yang bunuh diri.

Pada Selasa, 11 Oktober, saat mayat-mayat tersebut mulai dibersihkan, orang-orang mulai menjarah sisa-sisa barang yang tertinggal di rumah orang-orang Cina.

***

Kopral Johann Heinrich Schröder, merupakan pria asal Nazza, kini Thüringen di Jerman, mulai bertugas sebagai awak VOC pada 1736 hingga 1744.

Atas perintah Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, Schröder ditempatkan di Benteng Tangerang bersama 80 serdadu Jawa, sekitar akhir 1739 atau awal 1740.

Berdasarkan kesaksiannya, bahwa pada peristiwa 9 Oktober 1740 itu, ia Schröder awalnya mendengar suara dentuman meriam yang ditembakkan oleh orang-orang Cina di Tangerang.

Orang-orang cina ini mengepung dan menyerang dari luar gerbang, dan berhasil menguasai salah satu pos jaga dan merebut pabrik mesiu.

Schröder  mengisahkan bahwa api telah berkobar-kobar di Tangerang. Pemberontak Cina telah menyebar hingga ke kawasan sekitar dua belas jam dari Batavia.

Benteng VOC di bawah komando Schröder pun terus menembakkan meriam dengan kekuatan penuh, sehingga menghancurkan para pemberontak. Banyak orang-orang Cina bergelimpangan di tanah.

Schröder juga mengungkapkan bahwa meskipun orang-orang Cina jumlahnya jauh lebih banyak, akan tetapi VOC memiliki keunggulan dalam jumlah persenjataaan.

Selain itu, menurut pengakuan Schröder, VOC juga menggunakan serdadu asli dari Jawa, Bugis, Bali, dan Madura untuk membantu VOC.

Berdasarkan kesaksian Schröder, ia melihat bahwa orang-orang Cina membuat meriam yang terbuat dari pohon kelapa yang diperkuat dengan cincin besi. Namun, mereka hanya bisa menembakkan beberapa kali sebelum menjadi tidak berguna, ungkapnya.

Akibat serangan di Batavia yang terjadi pada Minggu, 9 Oktober 1740 itu, keesokan paginya, tanggal 10 Oktober 1740, tampak semua rumah orang Cina di dalam tembok kota Batavia hangus terbakar.

Mayat-mayat orang Cina bergeletakan di jalan-jalan, parit dan kanal. Mereka tewas dengan segala macam cara, hingga bunuh diri.

Pada Selasa, 11 Oktober, saat mayat-mayat tersebut mulai dibersihkan, orang-orang mulai menjarah sisa-sisa barang yang tertinggal di rumah orang-orang Cina.

Termasuk pula rumah Kapitan Cina, Ni Hoe Kong, yang menurut pengakuan Schröder, bahwa kapitan itu bersekutu dengan para pemberontak dengan cara menyembunyikan mesiu di rumahnya.

Bahkan Gustaaf Willem Baron von Imhoff, yang saat itu menjabat sebagai Dewan Hindia, juga ikut membasmi pemberontak di pinggiran Batavia.

Bahkan menurut Schröder, Imhoff juga menyediakan ternaknya untuk disembelih untuk mencukupi kebutuhan logistik serdadunya.

Akan tetapi, Imhoff mengelak keterlibatannya dalam pembantaian tersebut. Dan ia pun kemudian menggantikan posisi Valckeneir sebagai Gubernur Jenderal VOC.

Terjadinya peristiwa pembantaian tersebut, menurut Schröder, akibat dari keegoisan dan keserakahan Gubernur Jenderal Valckenier.

Catatan Schröder ini diterbitkan oleh Christian Mevius di Leipzig dan Gotha pada 1749. Catatan ini memuat mengenai perjalanan Schröder di Hindia Timur, termasuk catatannya soal pemberontakan orang Cina di Jawa dan perusakan Kota Batavia.

Mary Somers Heidhues kemudian mengungkapkan kisah Schröder dalam “1740 and the Chinese Massacre in Batavia: Some German Eyewitness Accounts” dalam jurnal Archipel nomor 77 yang terbit pada tahun 2009.

Kesaksian lain juga diungkapkan G. Bernhard Schwarzen, yang merupakan salah seorang pelaku pembantaian dan perampokan tersebut.

Dalam bukunya berjudul Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751 menyebutkan bahwa:

“Seluruh jalanan, gang-gang, dan kanal dipenuhi dengan mayat. Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal, jika melewati tumpukan mayat-mayat itu.”

Demikian deskripsi dari kesaksian Schwarzen tentang kondisi pembataian orang Cina yang terjadi ketika itu di Batavia.

Bahkan Ironisnya, Schwarzen juga membunuh orang Cina yang ia kenal baik dan kerap mengundangnya makan malam.

Sebuah laporan VOC yang berjudul NADER BERICHT WEGENS HET SCHRIKKELIJK OPROER ор BATAVIA, juga menuliskan hal yang hampir sama.

Dalam laporan setebal 18 halaman tersebut, salah satunya menyebutkan, bahwa pada Senin tanggal 10 Oktober 1740, hampir semua tempat, Jalanan, Kanal dan sungai di Batavia terlihat mayat-mayat orang Tionghoa yang terbunuh.

Bahkan peristiwa ini juga terekam dalam Litografi Jakob van der Schley (1715–1779) yang diambil berdasarkan lukisan karya Adolf van der Laan (1690 –1742) yang memperlihatkan situasi Pembantaian warga Cina yang terjadi di Batavia pada 9 Oktober 1740.

Terdapat pula cuplikan litografi Jakob van der Schley di Kawasan di Kota Batavia, yang kemungkinan saat merupakan Jalan Tiang Bendera, tentang Massacre des Chinois— pembantaian orang-orang Cina di Batavia pada 9 Oktober 1740.

Akibat peristiwa ini, dua tahun kemudian, Gubernur Jenderal Valckenier yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi di Batavia, dijatuhi hukuman penjara di Kastil Batavia selama 9,5 tahun. Hingga akhirnya, ia pun meninggal dan dimakamkan tanpa upacara.

Valckenier pun kemudian digantikan Johannes Thedens yang berkuasa dari tahun 1741 samapi 1743 dan kemudian Gustaaf Willem Baron van Imhoff dari tahu 1743 sampai 1750.

Nama Gustaaf Willem Baron van Imhoff, berdasarkan kesaksian Schröder juga terlibat dalam pembantaian tersebut.

Akan tetapi, Imhoff mengelak keterlibatannya dalam pembantaian tersebut. Dan ia pun kemudian menggantikan posisi Valckeneir sebagai Gubernur Jenderal VOC. (IDWAR ANWAR)

* Dapatkan buku Pemilu 1955 di Sulawesi Selatan/Tenggara, Berebut Suara di Daerah Konflik - Strategi dan Pertarungan Ideologi Partai-Partai Politik

Tonton Videonya di Youtube IDWAR ANWAR

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Beberapa Kesaksian Pembantaian Etnis Cina 9 Oktober 1740 di Batavia

Terkini

Iklan

Close x