Iklan Sponsor

Iklan

Iklan Sponsor

Iklan

terkini

Konsep Ade’ dalam Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan: Asal Usul Kata

arung sejarah
, 15:30 WIB Last Updated 2023-06-15T09:12:06Z
Konsep Ade’ dalam Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan: Asal Usul Kata. Dalam Latoa disebutkan, kebesaran dan kejayaan suatu Negara tergantung pada empat perkara dan baru setelah Islam masuk ke daerah ini, menjadi lima yaitu ditambah dengan apa yang disebut sara’, empat perkara itu, ialah:  (1). Adê’ (2). Rapang, (3). Bicara, (4). Wari’ dan (5). Sara’,. Dengan mengemukakan hal ini, bagi kami nyatalah bahwa adê’ baik sebagai satu sistem maupun sebagai istilah sudah ada sebelum Islam tersebar di Sulawesi Selatan, Konsep Ade’ dalam Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan, adat, panggaderreng, budaya bugis-makassar, budaya sulawesi selatan, kebudayaan bugis-makassar, kebudayaan sulawesi selatan, budaya makassar, hari kebudayaan, idwar anwar, www.arungsejarah.com

ARUNGSEJARAH.COM - Konsep Ade’ dalam Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan: Asal Usul Kata.

 

Konsep Ade’ dalam Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan: Asal Usul Kata. Dalam Latoa disebutkan, kebesaran dan kejayaan suatu Negara tergantung pada empat perkara dan baru setelah Islam masuk ke daerah ini, menjadi lima yaitu ditambah dengan apa yang disebut sara’, empat perkara itu, ialah:

(1). Adê’ (2). Rapang, (3). Bicara, (4). Wari’ dan (5). Sara’,. Dengan mengemukakan hal ini, bagi kami nyatalah bahwa adê’ baik sebagai satu sistem maupun sebagai istilah sudah ada sebelum Islam tersebar di Sulawesi Selatan.

Dalam berbagai mitologi Bugis pra-Islam, dijumpai kata adê’ itu sudah dipergunakan baik dalam arti terminologis maupun dalam aplikasinya sebagai sistem kemasyarakatan oleh karena itu, masih dapat dipertahankan dugaan bahwa adê’ itu adalah konsep dan term Bugis sendiri.

Dalam hal bahwa adê’ sebagai sistem sudah mendapatkan sedikit atau banyak pengaruh isi dari konsep adab/adat dari kebudayaan Islam, adalah suatu yang lumrah, sebagai akibat adanya kontak, yang berlangsung sampai pada hari ini.

Suatu anggapan lain yang berkenaan dengan asal-usul istilah adê’ dapat pula dikemukakan sebagai berikut:

Dalam mitologi orang Bugis terdapat istilah-istilah deatang, atau dewatang. Apabila kata itu ditulis dengan kata aksara Lontara’/edwt/, maka lambang itu dapat dibunyikan /dewata/, /dewangta’/, /de’watang/, /dewatang/.

Berhubungan dengan kemungkinan-kemungkinan bunyi ucapan menurut tanda-tanda bunyi itu, maka kini pada umumnya dibunyikan dengan /dewata/. Hal itu dihubungkan dengan dewata yang dikenal agama-agama islam, sebagai konsep semacam adikodrati (super-natural power).

Akan tetapi apabila ucapan-ucapan itu kita dengar diucapkan oleh ahli-ahli lontara’ atau orang-orang tua yang belum mendapat banyak pengaruh dari tata ucap dari bahasa-bahasa lain, mereka yang disebut passure’ Galigo (sastrawan Galigo) maka ucapan itu dapat kedengaran sebagai berikut: /de’watang/, yang berasal dari kata /de’batang/artinya tanpa wujud.

Perubahan bunyi ba (ba-tang) ke we (wa-tang), mengikuti hukum BW dalam bahasa-bahasa Nusantara. (The Law of the tendency of interchange among labial glide,. Belabia stop and belabial nasal). 

De’watang atau De’batang, berarti tanpa wujud, yang dipuja, dipercaya sebagai asal dari segala sesuatu dengan menyebutnya de’wata seuae artinya “yang tak wujud yang tunggal”, suatu kepercayaan sebagai tokoh dewa-tertinggi dalam agama-agama alam lainnya.

De’watang yang tertinggi itu Yang Maha Menjadikan (pa’binru), Maha Mengatur (mappallakê) Maha Mengadakan (mappassakkê), semua itu disebut addewatangêng, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan ke-dê’-watang, termsuk tata tertib untuk semua yang wujud, yaitu manusia dan masyarakat.

Karena de’watang berarti “tak wujud”, maka disebut juga de’e. hal-hal yang berhubungan dengan perihal de’ (tak ada) itu disebut adde’e (hal-hal dari yang tak wujud). Melalui hukum metatetis dan tanggalan tengah, maka ia diucapkan ade’e (hal ade’ itu).

Anggapan ini didasarkan kepada kepercayaan orang Bugis sebelum Islam dalam system kepercayaan monoteisme (menurut ajaran Islam), bahwa segala sesuatu, termasuk segala tata tertib, dan segala apa yang duwujud berasal dari de’watang (tak wujud), yang disebut adde’wa tangêng. Itulah adê’ tata tertib yang berasal dari Maha Pencipta sesuatu yang tak wujud.

Lain keterangan lagi, ialah yang didasarkan kepada filsafat orang Bugis yang disebut “sulapa’êppa walasujie”, seperti telah dikemukakan pada bagian depan, yaitu penciptaan aksara lontara’.

Berdasarkan dugaan-dugaan tersebut, maka kami cenderung untuk menerima pendapat, bahwa adê’e sebagai istilah untuk menyatakan segala kaidah kemasyarakatan orang Bugis, kemungkinan besar berasal dari perbendaharaan bahasa Bugis sendiri.

Kebiasaan kita di Indonesia untuk menerjemahkan adê’ dengan adat, telah membawa banyak salah pengertian yang dapat mengelirukan. Maka akan lebih keliru lagi, apabila adê’, itu diterjemahkan dengan hukum adat atau hukum kebiasaan.

Berkenaan dengan itu, maka adalah lebih baik apabila dikatakan bahwa adê’, meliputi semua usaha manusia dalam mewariskan diri dalam kehidupan bersama dalam semua lapangan kebudayaan. Tiap segi kebudayaan mengandung aspek adê’ dan adê’ itulah yang memberi isi  kepada panngadêrrêng.

Apabila panngadêrrêng itu adalah kumpulan dari seluruh aspek adê’, maka dapat dikatakan bahwa panngadêrrêng ialah wujud kebudayaan orang Bugis dan adê’ adalah konkretisasi atau penjelmaan sesuai aspek kebudayaan, baik dalam bentuk nilai-nilai ideal berupa costums, adat dan lain-lain yang disebut singkêruang: kelakuan-kelakuan yang disebut barangkau’, maupun dalam bentuk fisik yang disebut abbaramparangêng. (Sumber: Latoa, Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis karya Prof. Mattulada).

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Konsep Ade’ dalam Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan: Asal Usul Kata

Terkini

Iklan

Close x